Adsense

Minggu, 16 Oktober 2011

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI PEMBELAJARAN SIKLUS (LEARNING CYCLE)


I.                   PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang Masalah
Keberhasilan siswa dalam belajar dapat dilihat dari hasil belajar siswa itu sendiri setelah mengalami kegiatan pembelajaran. Informasi dari hasil belajar siswa tersebut dapat pula digunakan untuk melihat perkembangan dan kemunduran belajar yang dialami oleh siswa. Sehingga dapat dikatakan bahwa dengan meningkatnya hasil belajar siswa ini menandakan tingkat keberhasilan pembelajaran meningkat.

Namun dalam kenyataan di lapangan dapat dilihat bahwa hasil belajar matematika yang dicapai siswa masih rendah. Berdasarkan hasil ulangan matematika siswa pada poko bahasan himpunan MTs Raden Intan Wonodadi bahwa hanya 1 orang siswa atau 3,45% hasil belajar maematika siswa khususnya kelas VII yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang telah ditetapkan oleh MTs Raden Intan Wonodadi yaitu sebesar 60, dan  28 orang siswa atau 96,55% siswa hasil belajarnya rendah. Rendahnya hasil belajar matematika siswa tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya dapat berasal dari diri siswa maupun dari guru dalam pelaksanaan pembelajarannya. Melihat dari karakteristik siswa yang pasif dalam kegiatan pembelajaran di kelas, pasif yang dimaksud adalah peran aktif siswa dalam kegiatan pembelajaran baik dalam hal bertanya tentang materi pembelajaran yang belum difahami, kerjasama antar siswa, dan mengaplikasikan materi pembelajaran, serta melihat dari metode pembelajaran yang digunakan yang sifatnya masih berpaku pada guru dalam arti belum mampu mengaktifkan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut tentunya seorang guru harus mampu memilih strategi dan metode pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu upaya agar siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran adalah dengan menggunakan Strategi Pembelajaran Siklus (Learning Cycle). Penggunaan strategi pembelajaran ini dimana setiap tahapannya menuntut keaktifan siswa dalam pembelajaran sehingga setrategi pembelajaran ini dianggap mampu meningkatkan hasil belajar siswa.

Strategi pembelajaran siklus atau yang sering disebut Learning Cycle (LC) adalah model pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis, dimana strategi ini memiliki lima tahap pembelajaran yang terdiri atas (a) pembangkitan minat, (b) eksplorasi, (c) penjelasan, (d) elaborasi dan (e) evaluasi. Metode ini diberikan karena disetiap tahapan pembelajarannya menuntut keaktifan siswa dan diharapkan siswa dapat mengkonstruksi sendiri cara belajranya serta memberi makna dengan mengaitkan materi pembelajaran melalui pengalaman nyata. Tujuannya yaitu agar siswa dapat memperdalam konsep, memberi pengalaman baru, melatih keaktifan siswa, melatih kerjasama dan kemandirian, memperkuat hasil belajar sebelumnya dan dapt mengkonstruksi cara belajarnya, sehingga Pembelajaran Siklus yang diterapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi himpunan kelas VII MTs Raden Intan Wonodadi Kec. Gadingrejo Kab. Pringsewu.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas maka penulis merumuskan masalah “Apakah dengan LC dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi himpunan kelas VII MTs Raden Intan Wonodadi semester genap tahun pelajaran 2010/2011 ?”.
C.     Ruang Lingkup Penelitian
Untuk menghindari kesalahpahaman dalam penelitian ini maka ruang lingkup penelitian perlu dibatasi sebagai beikut :
1.      LC adalah model pembelajaran dengan pendekatan konstruktifis.
2.      Hasil belajar adalah kemampuan siswa berupa hasil tes tertulis setelah proses belajar mengajar melalui strategi pembelajaran siklus.
3.      Objek penelitian adalah hasil belajar siswa pada pokok bahasan himpunan.
4.      Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII semester genap MTs Raden Intan Wonodadi Semester genap tahun pelajaran 2010/2011.
5.      Materi yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah himpunan.
D.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan di atas maka penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa dengan menggunakan LC pada pokok bahasan himpunan kelas VII MTs Raden Intan Wonodadi semester genap tahun pelajaran 2010/2011.
2.      Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada :
a.       Siswa
Manfaat penelitian ini bagi siswa adalah dapat menngkatkan hasil belajar siswa dan memberikan pengetahuan baru kepada siswa bagaimana cara belajar matematika yang lebih baik serta dapat mengembangkan kreatifitas dan kemandirian siswa diluar pengawasan guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa
b.      Guru
Manfaat penelitian ini bagi guru adalah meningkatkan kemampuan dan kinerja guru dalam menggunakan sistem pembelajaran secara tepat dalam proses pembelajaran dalam berbagai situasi global.
c.       Sekolah
Manfaat penelitian ini bagi sekolah adalah meningkatkan mutu pendidikan yang ada di sekolah tersebut khususnya pada mata pelajaran matematika pada MTs Raden Intan Wonodadi Kec. Gadingrejo Kab. Pringsewu.

II.                TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

A.     Tinjauan Pustaka
1.      Belajar dan Pembelajaran
Belajar yang terbaik adalah melalui pengalaman. Dengan demikian, belajar memiliki arti besar adanya aktifitas atau kegiatan dan penguasaan tentang sesuatu. Pengalaman yang merupakan serangkaiaan kegiatan atau aktifitas yang mengakibatkan terjadinya interaksi. Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. (Slameto,2003: 2)

Menurut Mark dkk (2009:193) “Melihat dari pandangan konstruktivisme tentang belajar bahwa belajar adalah menyusun pengetahuan dari pengalaman kongkrit, aktivitas kolaborasi, dan refleksi serta interprestasi”. Sehingga belajar dapat diartikan sebagai suatu proses perubahan prilaku atau pribadi seseorang berdasarkan pengalaman yang kongkrit dalam sikap dan tingkahlaku, serta keterampilan, kecakapan lain yang ada pada individu yang belajar. Oleh sebab itu belajar adalah proses aktif untuk mereaksi terhadap semua situasi yang ada disekitar individu.

Pembelajaran adalah  rancangan kegiatan belajar yang dibangun oleh guru untuk membantu siswa mempelajari suatu kemampuan atau nilai yang baru. Menurut  Sagala (2003:62) mendefinisikan pembelajaran adalah:
Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreatifitas berfikir yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaannya yang baik terhadap materi pelajaran.

Agar siswa dalam kondisi belajar, tentunya guru memerlukan suatu cara atau jalan yang akan ditempuh yaitu dengan pendekatan pembelajaran. Menurut  Sagala (2009:68) mengemukakan bahwa “pendekatan pembelajaran merupakan aktifitas guru dalam memilih kegiatan pembelajaran…”. Maksud dari memilih kegiatan pembelajaran adalah apakah guru akan menjelaskan suatu pengajaran dengan materi bidang studi yang sudah tersusun dalam urutan tertentu, ataukah dengan menggunakan suatu dengan yang lainnya dalam tingkat kedalaman yang berbeda, atau bahkan merupakan materi yang terintegrasi dalam suatu kesatuan multi disiplin ilmu. Maka pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang guru terhadap proses pembelajaran yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, mengurutkan dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu.

Pendekatan pembelajaran yang berpijak pada teori konstruktivis dan implikasinya dalam pembelajaran dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.       Orientasi merupakan fase untuk memberi kesempatan kepada peserta didik memperhatikan dan mengembangkan motifasi terhadap topik materi pembelajaran
b.      Elicitasi (memunculkan) merupakan fase untuk membantu peserta didik menggali ide-idenya dengan memberikan kesempatan untuk mendiskusikan atau menggambarkan pengetahuan dasar atau ide mereka, yang dipresentasikan kepada seluruh peserta didik.
c.       Restrukturisasi ide dalam hal ini peserta didik melakukan klarifikasi ide dengan cara mengontraskan ide-idenya dengan  ide orang lain atau teman melalui diskusi.
d.      Aplikasi ide dalam langkah ini ide diimplikasikan pada bermacam-macam situasi yang dihadapi. Hal ini akan membuat pengetahuan peserta didik lebih lengkap bahkan lebih rinci.
e.       Review (memeriksa) dalam fase ini memungkinkan peserta didik mengaplikasikan pengetahuannya pada situasi yang dihadapi sehari-hari.(Suparno, 1997; 69)

Menurut Rianto (2009:144) “tujuan pembelajaran menggunakan pendekatan konstruktivistik ini ditentukan bagaimana belajar, yaitu menciptakan pemahaman baru yang menuntut aktivitas, kreatif, produktif dalam konteks nyata yang mendorong sibelajar  untuk berfikir dan berfikir ulang lalu mendemonstrasikan”.
Tujuan tentang konstruktvis pada dasarnya ada beberapa tujuan yang ingin diwujudkan  antara lain :
a.       Memotifasi siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri.
b.      Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri jawabannya.
c.       Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian atau pemahaman konsep secara lengkap.
d.      Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.
2.      Hasil Belajar
a.      Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar siswa yang diharapkan adalah kemampuan yang utuh yang mencakup kemampuan kognitif, kemampuan psikomotor dan kemampuan afektif atau prilaku yang dicapai peserta didik ketika mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah. Menurut Rohani (2004:179) mendefinisikan tentang tujuan hasil belajar adalah:
Hasil belajar bertujuan melihat kemajuan belajar pesertadidik dalam hal penguasaan materi pengajaran yang telah dipelajarinya, sesuai dengan tujuan yang telah dipelajarinya, sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Adapun sasaran penilaian adalah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang afektif, kognitif, dan psikomotorik.


Menurut Sagala (2007:19) “hasil belajar bukan hanya berupa penguasaan pengetahuan tetapi juga kecakapan dan keterampilan dalam melihat, menganalisis dan memecahkan masalah”. Berdasarkan kedua pendapat tersebut, dapat dikemukakan bahwa hasil belajar adalah ketercapaian tujuan dan penguasaan materi pengajaran yang telah dipelajari siswa, sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dengan sasaran penilaiannya adalah perubahan tingkah laku.
b.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan sesuatu yang diperoleh setelah melalui proses belajar, sementara itu belajar adalah merupakan serangkaian perubahan tingkah laku. Perubahan yang merupakan hasil dari proses belajar yang telah dialami. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar dalam bentuk “perubahan” adalah fator interen dan faktor ekstern. Menurut Slameto (2003:54-69) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Penjelasan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu:
1)      Faktor Intern
Faktor intern terdiri atas tiga bagian , yaitu:
a)      Faktor Jasmaniah
(1) Faktor Kesehatan
Kesehatan adalah keadaan atau hal sehat. Kesehatan seseorang berpengaruh terhadap belajarnya.
(2)   Cacat Tubuh
Cacat tubuh adalah suatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh atau badan.
b)      Faktor Psikologis
(1)   Intelegensi
Intelegensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui atau menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.
(2)   Perhatian
Untuk menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai terhadap bahan dipelajarinya, jika bahan tidak menjadi perhatian siswa, maka timbulah kebosanan, sehingga dia tidak lagi suka belajar.
(3)   Minat
Minat adalah kecendrungan yang tetap unruk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan.
(4)   Bakat
Bakat mempengaruhi belajar karena bakat merupakan kemampuan untuk belajar.
(5)   Motifasi
Dalam proses belajar haruslah diperhatikan apa yang dapat mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik atau mempunyai motif untuk berfikir dan memusatkan pehatian, merencnakan, dan melaksanakan kegiatan yang berhubungan atau menunjukan belajar.
(6)   Kematangan
Kematangan adalah suatu tingkat atau fase dalam pertumbuhan seseorang, dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru.
(7)   Kesiapan
Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi respon atau bereaksi.
c)      Faktor Kelelahan
Kelelahan pada seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani (bersifat pisikis). Kelelahan itu mempengaruhi belajar, agar siswa dapat belajar, dengan baik harus menghindari jangan sampai terjadi kelelahan dalam belajarnya.
2)      Faktor Ekstern
a)      Faktor Keluarga
Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dri keluarga berupa: cara mendidik orang tua, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga.
b)      Faktor Sekolah
Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup: metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah.
c)      Faktor Masyarakat
Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa. Pengaruh ini terjadi krena keberadaan siswa dalam masyarakat. Misalnya, kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat.
3.      Strategi Pembelajaran Siklus (Learning Cycle)
a.      Pengertian dan tujuan learning cycle
Menurut Wena (2009:170) Strategi pembelajaran siklus merupakan salah satu model pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis, tahap-tahap yang digunakan pada strategi pembelajaran ini terdiri atas tahap a) pembangkitan minat, b) eksplorasi, c) penjelasan, d) elaborasi, dan e) evaluasi.

Pendapat lain mengatakan bahwa siklus belajar (LC) adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada siswa. LC merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga pembelajar dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperan aktif (Fauziatul dan I Wayan).

LC lebih menekankan kepada keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran dimana keaktifan siswa dituangkan pada setiap tahapan (fase). Dalam tahap pembelajaran tentunya terdapat metode-metode pembelajaran yang digunakan dan yang mendukung kegiatan agar berjalan seperti apa yang diharapkan.

Mengingat bahwa strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “ a way acheieving something” (Wina Sanjaya,2006:127). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, untuk mengaplikasikan pembelajaran siklus dalam proses pembelajaran dilakukan berdasarkan tahapan-tahapan, dimana dalam masing-masing tahapan tersebut dapat digunakan metode-metode pembelajaran untuk mengimplikasikan materi pembelajaran.

Dalam mengaplikasikan metode pembelajaran tentunya seorang guru memiliki teknik dan taktik tersendiri yang digunakannya. Teknik yang dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan guru dalam mengimplementasikan suatu metode secara sepesifik, dan taktik pembelajaran merupakan gaya seorang guru dalam melaksanakan metode atau teknik tertentu yang sifatnya individual atau dapat juga dikatakan sebagai ciri khas seorang guru.

Menurut Hamzah (2007:2) bahwa “teknik adalah jalan, alat atau media yang digunakan oleh guru untuk mengarahkan kegiatan pesertadidik ke arah tujuan yang ingin dicapai”. Dengan demikian teknik yang digunakan dalam LC adalah guru lebih banyak bertanya daripada memberi tahu, maksudnya adalah guru tidak memberi petunjuk langkah-langkah yang harus dilakukan siswa, tetapi guru mengajukan pertanyaan tentang apa yang akan dilakkan siswa. Sehingga, kemampuan analisis, evaluatif, dan argumentatif siswa dapat berkembang dan meningkat secara signifikan. Melihat dari tahapan-tahapan yang akan dilakukan pada LC ini, yang dimulai dari pembangkitan minat. Minat merupakan rasa ketertarikan yang timbul atau dimiliki oleh seseorang terhadap sesuatu. “Minat dapat diartikan juga sebagai suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktifitas, tanpa ada yang menyuruh.” (Slameto, 2003: 180).

Pendapat lain mengatakan bahwa “kecendrungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan yang diminati seseorang diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa senang”(Daryanto, 2009:53). Jadi minat tidak sama dengan perhatian, dimana perhatian sifatnya sementara. Guna memperlancar proses pembelajaran tentunya perlu adanya pembangkitan minat pada diri siswa.

Beralih ketahapan selanjutnya yaitu eksplorasi, dimana pada tahapan ini siswa mengeksplor atau menjelajah tentang isi materi dengan cara membentuk kelompok-kelompok kecil. Manfaat membuat kelompok-kelompok kecil adalah melatih kerjasama antar siswa guna mencari informasi atau jalan keluar dari suatu masalah. Adapun kebaikan-kebaikan dari kerja kelompok tersebut yaitu “membiasakan siswa bekerjasama menurut paham demokrasi, kesadaran akan adanya kelompok menimbulkan rasa kompetitif yang sehat, melatih ketua kelompok menjadi seorang pemimpin yang bertanggung jawab” (Sagala,2009:216)

Penjelasan berarti menuntut siswa guna menjelaskan materi pembelajaran dengan kata-kata melalui pemikiran sendiri. Dalam menjelaskan materi atau konsep pembelajaran tentunya melatih mental siswa guna mengelurkan pendapatnya atas dasr pemikiran mereka sendiri. Dengan demikian akan timbul respon dari kelompok lain yang akhirnya merunut pada sebuah diskusi antar kelompok. “Diskusi ialah percakapan ilmih yang responsif berisikan pertukaran pendapat yang dijalin dengan pertanyaan-pertanyaan problematis pemunculan ide-ide dan pengujian ide-ide ataupun pendapat” (Sagala2009:208)

Tahap selanjutnya adalah elaborasi, dukungan empiris dari atau mengenai teori elaborasi masih sangat langka, namun berdasarkan dukungan teori belajar yang bersumber pada psikologi kognitif yang pada akhirnya juga melahirkan model pembelajaran kognitif dan juga menjadi pijakan teoritis dari teori elaborasi. “Ciri pengorganisasian pembelajaran elaborasi adalah melalui pembelajaran dari penyajian isi pada tingkat umum bergerak ketingkat rinci (urutan elaborasi)” (Hamzah,2007:142).

Tahap terakhir adalah evaluasi, evaluasi digunakan guna mengetahui hambatan-hambatan dalam pembelajaran di kelas atau mengukur kemajuan dan kemunduran dari pembelajaran berdasarkan tujuannya. Menurut Arikunto (2003:25) bahwa “evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana tujuan pembelajaran sudah tercapai”.

Pendapat lain yaitu pandangan konstruktivisme tentang evaluasi bahwa “evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar dengan cara memberikan tugas-tugas yang menuntut aktivitas, belajar bermakna serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata” (Mark, 2009:195). Jadi, evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data dari hasil belajar yang menuntut adanya aktifitas belajar guna mengetahui kemajuan pada pembelajaran.
b.      Kelebihan dan Kekurangan Learning Cycle (LC)
Learning Cycle memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan dilihat dari pandangan konstruktivisme diantaranya adalah sebagai berikut:
1)      Kelebihan
a)      Peserta didik memperoleh kesempatan untuk berfikir, mengungkapkan pendapatnya
b)      Dapat menumbuhkan partisipasi aktif dan sikap demokratif dikalangan peserta didik
c)      Siswa lebih memahami lagi bahwa belajar adalah pengembangan sikap musyawarah serta tanggungjawab siswa itu sendiri
d)      meningkatkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri jawabannya
e)      membantu siswa mengembangkan pengertian atau pemahaman konsep secara lengkap
f)        membantu siswa mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri. (Yatim Riyanto,2009:147)

2)      kelemahan
a)      Guru harus memiliki kemampuan atau sikap kreatif dan inofatif dalam menerapkan strategi sampai dengan mengevaluasi
b)      Sulit membuat kelompok homogen, bakat dan minat.
c)      Diskusi terlampau menyerap waktu
d)      Guru konstruktivis dituntut lebih kreatif dalam merencanakan pembelajaran dan memilih atau menggunakan media
e)      Pendekatan konstruktivis menuntut perubahan siswa, evaluasi, yang mungkin belum bisa diterima oleh otoritas pendidik dalam waktu dekat
f)        Fleksibilitas kurikulum mungkin masih sulit diterima oleh guru yang terbiasa dengan kurikulum yang terkontrol
g)      Siswa dan orang tua mungkin memerlukan waktu beradaptasi dengan proses belajar dan mengajar yang baru. (Riyanto,2009:154)
c.       Cara Mengatasi Kelemahan-kelemahan Learning Cycle
1)      Kurikulum disajikan dari kesatuan ke bagian dengan penekanan konsep utama
2)      Pengajaran yang banyak menimbulkan banyak pertanyaan dari siswa sangat dihargai
3)      Kegiatan kurikulum bertumpu pada sumber data primer dan materi yang digunakan singel text book
4)      Siswa dianggap sebagai pemikiran
5)      Pada umumnya guru, berprilaku secara interaktif menggunakan lingkungan sebagai media pembelajaran
6)      Guru mencari sudut pandang siswa untuk memahamkan konsep yang disajikan pada siswa untuk keperluan pembelajaran lebih lanjut
7)      Penelitian terjalin menjadi satu dengan pembelajaran dan dilaksanakan dalam bentuk observasi terhadap kerja siswa/tampilan/tugas
8)      Siswa bekerja dalam kelompok. (Riyanto,2009:154)
d.      Pelaksanaan Learning Cycle
Adapun langkah-langkah atau pelaksanaan yang diikuti dalam penggunaan strategi pembelajaran siklus yaitu:
1)      Pembangkitan Minat
Pada tahap ini, guru berusaha membangkitkan dan mengembangkan minat dan keingin tahuan (curiosity) siswa tentang topik yang akan diajarkan. Hal ini dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan tentang proses faktual dalam kehidupan sehari-hari dengan demikian, siswa akan memberikan respon atau jawaban, kemudian jawaban siswa tersebut dapat dijadikan pijakan oleh guru untuk mengetahui pengetahuan awal siswa tentang pokok bahasan. Kemudian guru perlu melakukan identifikasi ada/tidaknya kesalahan konsep pada siswa. Dalam hal ini guru harus membangun keterkaitan/perikatan antara pengalaman keseharian siswa dengan topik pembelajaran yang akan dibahas.
2)      Eksplorasi (Eksploration)
Pada tahap eksplorasi dibentuk kelompok-kelompok kecil antara 2-4 siswa kemudian diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok kecil tanpa pembelajaran langsung dari guru. Dalam kelompok ini siswa didorong untuk menguji hipotesis atau membuat hipotesis baru, mencoba alternatif pemecahannya dengan dengan teman sekelompok, melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide atau pendapat yang berkembang dalam diskusi. Pada tahap ini guru berperan sebagai fasilitator dan motifator. Pada dasarnya tujuan tahap ini adalah mengecek pengetahuan yang dimiliki siswa apakah sudah benar, masih salah, atau mungkin sebagian salah, sebagian benar.
3)      Penjelasan
Pada tahap penjelasan, guru dituntut mendorong siswa untuk menjelaskan suatu konsep dengan kalimat/pemikiran sendiri, meminta bukti dan klarifikasi atas penjelasan siswa, dan saling mendengar secara kritis penjelasan antar siswa atau guru. Dengan adanya diskusi terebut, guru memberi definisi dan penjelasan tentang konsep yang dibahas, dengan memakai penjelasan siswa terdahulu sebagai dasar diskusi.
4)      Elaborasi
Pada tahap elaborasi siswa menerap-kan konsep dan keterampilan yang telah dipelajari dalam situasi baru atau konteks yang berbeda. Dengan demikian, siswa akan dapat belajar secara bermakna, karena telah dapat menerapkan/mengaplikasikan konsep yang baru dipelajarinya dalam situasi baru. Jika tahap ini dapat dirancang dengan baik oleh guru maka motifasi belajar siswa akan meningkat. Meningkatnya motifasi belajar siswa tentu dapat mendorong peningkatan hasil belajar siswa.
5)      Evaluasi
Pada tahap evaluasi, guru dapat mengamati pengetahuan atau pemahaman siswa dalam menerapkan konsep baru. Siswa dapat melakukan evaluasi diri dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan mencari jawaban yang menggunakan observasi, bukti, dan penjelasan yang diperoleh sebelumnya.

Hasil evaluasi ini dapat dijadikan guru sebagai bahan evaluasi tentang proses penerapan metode siklus belajar yang sedang diterapkan, apakah sudah berjalan dengan sangat baik, cukup baik atau masih kurang. Demikian pula melalui evaluasi diri, siswa akan dapat mengetahui kekurangan atau kemajuan dalam proses pembelajaran yang sudah dilakukan.

4.      Konsep Himpunan
B.     Hipotesis
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah “Melalui Strategi Pembelajaran Siklus Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Pada Materi Himpunan siswa kelas VII MTs Raden Intan Wonodadi semester genap tahun pelajaran 2010/2011”.

III.             METODE PENELITIAN


A.     Seting Penelitian
Penelitian tindakan ini dilakukan terhadap siswa kelas VII MTs Raden Intan Wonodadi Kabupaten Pringsewu. Kondisi siswa relatif homogen dilihat dari kecerdasan siswa. Waktu penelitian semester genap tahun pelajaran 2010/2011 pada materi pokok himpunan. Lamanya penelitian mulai dari tahap persiapan sampai dengan melakukan tindakan selama enam minggu dimulai dari minggu pertama januari sampai minggu ke dua Februari. Jumlah siswa yang diteliti sebanyak 29 siswa yang terdiri dari 10 laki-laki dan 19 perempuan. Pelaksanaan penelitian dimulai dengan siklus pertama yang terdiri dari empat kegiatan yaitu perencanaan siklus pertama, pelaksanaan tindakan pertama, pengamatan pertama dan refleksi. Pelaksanaan penelitian ini siswa dibagi menjadi enam kelompok, masing masing kelompok terdiri dari 5-6 siswa. Penelitian ini berkolaborasi dengan guru sejawat yang berasaal dari MTs .........guna menghindari subjektifitas dalam penelitian.
B.     Prosedur Penelitian
Model PTK pada dasarnya terdiri dari empat tahapan dasar yang saling terkait dan berkesinambungan, yaitu perencanaan (Planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflekcting) namun untuk melaksanakannya ke empat tahapan tersebut tentunya diperlukan suatu prosedur. Prosedur PTK merupakan proses pengkajian melalui sistem berdaur dari berbagai kegiatan pembelajaran. Menurut Raka Joni (1988), (dalam Jamal Ma’mur Asmani, 2011:73), terdapat lima tahapan dalam PTK yaitu pengembangan fokus masalah penelitian, perencanaan tindakan perbaikan; pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi, dan interpretasi; analisis dan refleksi; serta perencanaan tindak lanjut.
Secara lebih rinci, prosedur pelaksanaan dapat digambarkan sebagai berikut:
  Bagan: Siklus Pelaksanaan PTK


                                                 


 
 




















        Sumber : Buku PTK Jamal Ma,mur Asmani.

Secara khusus pelaksanaan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kompetensi siswa secara menyeluruh yang meliputi tentang pemahaman konsep, prosedur, penalaran, komunikasi, dan pemecahan masalah. Kompetensi-kompetensi tersebut dianalisa dengan cara menerapkan Learning Cycle. Informasi dari pengamatan selanjutnya dijadikan umpan balik kepada siswa untuk memperbaiki letak kelemahan siswa yang sebenarnya.

Penelitian ini dilaksanakan beberapa siklus, program kegiatan masing-masing siklusnya disusun dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Gambaran Umum Penelitian
Siklus I
1)      Perencanaan (planning)
a)      Menyusun perangkat pembelajaran yang akan diterapkan
b)      Merancang strategi pembelajaran siklus
2)      Pelaksanaan tindakan (Acting)
a)      Melaksanakan KBM sesuai dengan RPP (pembelajaran siklus)
b)      Melaksanakan strategi pembelajaran siklus
c)      Mengevaluasi terhadap hasil tugas siswa
d)      Melaksanakan ulangan harian 1
3)      Pengamatan (observasing)
a)      Pengamatan terhadap evaluasi
b)      Pengamatan terhadap hasil belajar
4)      Refleksi (reflection)
a)      Menganalisa hasil ulangan harian 1
b)      Merangkum hasil opservasi
c)      Menganalisa hasil opservasi dan merancang tindakan untuk siklus berikutnya
Siklus II
1)      Perencanaan (planning)
a)      Merevisi tindkan-tindakan yang kurang berdasarkan hasil refleksi pada siklus I
b)      Merancan pembelajaran yang bertitik tolak pada kelemahan siswa
c)      Menyusun perangkat penilaian dan evakuasi untuk akhir siklus
2)      Pelaksanaan tindakan (Acting)
a)      Melaksanakanpembelajaran pada siklus dua setelah dilakukan refleksi pada siklus satu
b)      Melaksanakan strategi pembelajaran siklus
c)      Mengevaluasi terhadap hasil tugas siswa
d)      Melaksanakan ulangan harian 2
3)      Pengamatan (observasing)
1)      Pengamatan terhadap evaluasi
2)      Pengamatan terhadap hasil yang diperoleh siswa melalui ulangan harian 2
4)      Refleksi (reflection)
a)      Menganalisa ulangan harian 2
b)      Merangkum hasil opservasi monitoring kelas
c)      Menganalisa hasil opservasi dan membuat kesimpulan untuk tindak lanjut siklus berikutnya.
Siklus III
1)      Perencanaan (planning)
a)      Berdasarkan hasil refleksi terhadap kekurangan yang ditemukan pada siklus II
b)      Menyusun perangkat penilaian dan evaluasi untuk akhir siklus
2)      Pelaksanaan tindakan (Acting)
a)      Melaksanakan pembelajaran siklus tiga setelah dilakukan revisi dari kekurangan-kekurangan hasil refleksi pada siklus dua
b)      Melaksanakan strategi pembelajaran siklus
c)      Mengevaluasi terhadap hasil tugas siswa
d)      Melaksanakan ulangan harian 3
3)      Pengamatan (observasing)
a)      Pengamatan terhadap evaluasi
b)      Pengamatan terhadap hasil yang diperoleh siswa melalui ulangan harian 3
4)      Refleksi (reflection)
a)      Menganalisa ulangan harian 3
b)      Merangkum hasil opservasi monitoring kelas
c)      Menganalisa hasil opservasi dan membuat kesimpulan untuk tindak lanjut siklus berikutnya.
2.      Rincian Prosedur Penelitian
a)      Persiapan tindakan
Penelitian ini diawali dengan tahap persiapan yaitu:
1)      Menyusun jadwal mengajar, perangkat pembelajaran, merancang penilaian, dan merancang instrumen penilaian dengan melaksanakan strategi pembelajaran siklus pada siklus pertama, selanjutnya untuk siklus berikutnya beracuan pada hasil pengamatan dan analisa pada siklus I
2)      Menyusun rencana tindakan perbaikan pada siklus berikutnya berdasarkan hasil pengamatan dan refleksi pada siklus sebelumnya
b.      Implementasi tindakan
Tindakan yang dilakukan adalah dengan menerapkan LC dengan memberikan tugas tertentu kepada kelompok siswa lalu hasil tugas yang diperoleh dievaluasi untuk mendapatkan informasi tentang apa yang diketahui siswa dan apa yang dilakukan. Informasi tersebut dijadikan cuan mengambil tindakan pada siklus berikutnya.
c.       Faktor yang diteliti
Faktor yang diteliti adalah hasil belajar matematika siswa setelah diberikan pembelajaran melalui pembelajaran siklus.
d.      Data penelitian
Data penelitian ini meupakan data kuantitatif. Data kuantitatif diperoleh dari hasil belajar.
e.      Teknik Pengumpulan data
Untuk memperoleh data selama penelitian, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah:
1)      Catatan lapangan
Catatan lapangan bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang terjadi selama proses penelitian. Catatan lapangan dapat berupa prilaku siswa ataupun masalah yang dpat dipertimbangkan bagi langkah selanjutnya ataupun menjadi masukan tehadap keberhasilan yang sudah dicapai.
2)      Tes
Tes dilaksanakan pada setiap akhir siklus. Tes ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa setelah diberikan pembelajaran melalui pembelajaran siklus.
f.        Instrumen penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan meliputi:
1)      Perangkat tes
Hasil tes pada setiap akhir proses kegiatan pembelajaran digunakan untuk mengetahui pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi yang telah diberikan pad setiap siklus.
2)      Catatan lapangan
Catatan lapangan ini berupa catatan yang dilakukan oleh peneliti dan bekerja sama dengan guru mitra selama pelaksanaan penelitian.

g.      Indikator keberhasilan
Adapun indikator keberhasilan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah: Hasil belajar siswa yang memenuhi KKM yaitu 60 mencapai 75 %
h.      Teknis dan analisis data
Data kuantitatif didapat dari presentase banyaknya siswa yang memperoleh nilai diatas KKM yang telah ditetapkan. Untukmenghitung presentase banyaknya siswa yang memperoleh nilai diatas KKM yang telah ditetapkan rumus yang digunakan:
Keterangan :
Pb  = Prosentase banyak siswa yang mampu memperoleh nilai ≥ 60
Xb = Jumlah siswa yang memperoleh nilai ≥ 60
N   = Jumlah seluruh siswa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar